Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, memberikan bahwa Programme for International Student Assessment (PISA) yakni asesmen global yang memetakan sistem-sistem pendidikan di aneka macam macam negara yang dites untuk anak di umur 15 tahun. ”Seperti yang kita semua telah pahami, ranking kita kini masih banyak butuh kenaikan utamanya di area literasi itu yang mengalami sedikit penurunan,” ujar Mendikbud dikala menawarkan informasi pers lewat pertemuan video usai Rapat Terbatas, Jumat (3/4). Untuk itu, Mendikbud telah mempersiapkan seni manajemen yang komprehensif untuk mampu memajukan kualitas pembelajaran sehingga nanti di tahun 2024 atau tahun 2025 saat tes PISA berikutnya mampu terlihat akan ada peningkatan, sebagai berikut: Pertama , dan yang terpenting adalah untuk mengganti standar penilaiannya itu sendiri. “Makanya yang sudah kita kerjakan dengan UN itu diubah menjadi assessment kompetensi minimum, assessment kompetensi minimum itu ialah terinspirasi oleh PISA dan memang sungguh mirip dengan PISA dan soal-soalnya pun mengikuti dan melekat dengan PISA, namun dengan assessment,” imbuh Mendikbud. Karena PISA itu, menurut Mendikbud, cuma untuk 15 Ia akan menurunkan itu, baik yang buat Sekolah Menengan Atas, SMP, dan juga SD. Ia menyebutkan bahwa step pertama yaitu mengikuti persyaratan internasional yakni PISA dalam assessment pemetaan pendidikan kita. ”Karena UN itu standar lokal tetapi assessment kompetensi kita yang baru itu adalah tolok ukur internasional. Tentunya yang dites bukan cuma kognitif saja tapi juga survei abjad dan lingkungan mencar ilmu, dimana kita akan bisa mendapatkan pemetaan hal-hal lain yang berhubungan dengan norma-norma, kesehatan mental, kesehatan budpekerti, dan kesehatan pada belum dewasa di masing-masing sekolah,” kata Mendikbud seraya menegaskan langkah awal yaitu mengubah terhadap standar penilaian atau assessment global yakni PISA. Kedua , yakni untuk transformasi kepemimpinan sekolah, yakni memastikan bahwa guru-guru penggagas terbaik yang kini di banyak sekali macam daerah itu betul-betul yang menjadi pemimpin sekolah, yang menjadi kepala sekolah. ”Dan mereka juga diberikan keleluasaan dan otonomi dalam penggunaan anggaran dan diberi supply dengan aneka macam macam akomodasi teknologi untuk merendahkan atau meminimalkan beban administratif mereka, sehingga mereka bisa konsentrasi pada mentoring guru-guru di dalam sekolah mereka,” tandas Mendikbud. Ketiga , ialah kenaikan kualitas dibandingkan dengan pendidikan profesi guru atau PPG supaya mencetak guru-guru gres dengan kualitas yang bagus yang punya misi yang searah, yakni untuk siswa yang terbaik. ”Dan ini yakni kami akan membuka acara pendidikan profesi guru di banyak sekali macam institusi lokal maupun internasional dan itu akan membuat alumni-alumni lulusan yang lebih baik lagi. Karena banyak sekali guru yang pensiun, ada guru-guru PNS yang pensiun setiap tahunnya. Jadinya pabrik guru kita itu mesti diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya,” ungkapnya. Kemudian, berdasarkan Mendikbud yaitu untuk memastikan juga bahwa pelatihan-pelatihan guru yang ada sekarang itu bukan sifatnya cuma teoritis namun sifatnya praktik dan betul-betul mencar ilmu. ”Ada yang dilaksanakan pembinaan di dalam sekolah-sekolah lain yang kualitasnya lebih baik. Bukan cuma di dalam sebuah pelatihan atau ditunjukkan PowerPoint tapi proses pelatihan guru itu dikerjakan lewat interaksi dengan guru dan guru dan di dalam class room, pengamatan dan feedback,” imbuhnya. Keempat ialah untuk melaksanakan transformasi pengajaran yang sesuai dengan tingkat kesanggupan siswa. ”Sekarang ini banyak sekali pengajaran sebab silabus kita dan kebijakan-kebijakan mengajar kita sungguh rigid, sungguh ketat, sehingga berbagai guru-guru dan sekolah yang tidak bisa mengajar kurikulum yang tepat dengan tingkat kemampuan siswa,” urai Nadiem. Kadang-kadang, berdasarkan Nadiem, terlalu susah yang dihadapi siswa jadi kurikulum ini mesti disederhanakan, dibentuk lebih fleksibel, dan berorientasi terhadap kompetensi, dan disokong juga dengan tool kit-tool kit online yang mampu membantu personalisasi atau segmentasi pembelajaran. ”Sehingga tidak semua murid harus melakukan sebuah hal yang sama, kalau satu kelas pun murid-murid dengan tingkat kesanggupan yang berbeda bisa melaksanakan misalnya PR yang berbeda atau project yang berlainan,” tandasnya. Kelima , yaitu filsafat bahwa semua perubahan atau transformasi sekolah itu dikerjakan cuma di kementerian itu akan berganti, kemitraan dengan kawasan dan aneka macam macam organisasi pelopor itu akan ditingkatkan. ”Kaprikornus kami yakin di Kemendikbud bahwa partisipasi masyarakat dan aneka macam macam organisasi di dunia pendidikan maupun itu nirlaba, perusahaan-perusahaan yang punya passion di pendidikan, Ed-tech, teknologi startup-startup di bidang pendidikan semuanya mesti dirangkul untuk bekerja sama untuk menyasar kenaikan pembelajaran hasil berguru siswa,” pungkasnya. Sumber: https://setkab.go.id/ Sumber http://supiadi74.blogspot.com
Home
Posts filed under INFO PENDIDIKAN
Tampilkan postingan dengan label INFO PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INFO PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Selasa, 18 Mei 2021
Senin, 17 Mei 2021
Standar Asesmen Kompetensi Sama Tesnya Dengan Un, Tapi Penanganan Setelahnya Berbeda
Sistem persyaratan asesmen kompetensi sama tesnya dengan Ujian Nasional (UN), namun penanganan sehabis asesmen itu berlawanan-beda tergantung keperluan masing-masing kawasan. Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, menjawab pertanyaan wartawan dikala pertemuan pers melalui daring, Jumat (3/4). ”Asesmen kompetensi yang hendak berganti dari UN itu ada beberapa perbedaan. Yang pertama asesmen kompetensi itu tesnya dilaksanakan di setiap sekolah di masing-masing jenjang namun tidak harus seluruh angkatan siswanya mengambil,” ujar Mendikbud. Menurut Mendikbud, itu sampling saja dari setiap sekolah, setiap angkatan, dari setiap jenjang SD, Sekolah Menengah Pertama, SMA sehingga tidak butuhsemua anak di angkatan itu, di-grade itu, mengambil tesnya. ”Jadi sampling saja dan standarnya sama semuanya akan sama. Kaprikornus mirip UN, jadi enggak ada perbedaan dari tesnya,” ungkap Mendikbud. Lebih lanjut, Mendikbud menyampaikan bahwa sisi perbedaannya yakni apa yang terjadi setelah simpulan melaksanakan asesmen kompetensi tersebut. “Penanganan masing-masing daerah tergantung di level mana ia mendapatkan hasil asesmen kompetensi, tersebut di situlah yang mau ada segmentasi dari berbagai macam daerah, kawasan yang butuh lebih banyak pinjaman, kawasan yang butuh pendekatan yang berlainan,” tambah Mendikbud. Jadi, berdasarkan Mendikbud, Ia menjunjung tinggi keberagaman dan walaupun asesmennya persyaratan tapi cara penanganan sesudah asesmen itu tidak terstandar sebab memang beda-beda semua level kawasan, sekolah-sekolah masing-masing juga beda-beda. Menjawab pertanyaan mengenai literasi, Mendikbud sampaikan ada dua hal yang akan dikerjakan untuk mengembangkan literasi, ialah untuk mengganti paradigma dari sisi buku-buku yang diberikan kepada sekolah. “Yang selama ini buku-buku itu fokusnya yakni terhadap paket-paket buku pembelajaran dan kurikulum, sedangkan yang lebih penting lagi adalah untuk mencintai membaca,” ujarnya. Karena itu, Mendikbud sampaikan konten-konten yang diseleksi untuk perpustakaan di sekolah-sekolah dan lain-lain itu mesti fokus terhadap apa yang menggembirakan untuk murid-murid. “Ini yang paling penting, pergeseran terpenting, bahwa kalau anak itu mencintai membaca dan ia tertarik secara independen/secara mandiri dia ingin membaca alasannya konten yang mempesona, dari situlah proses literasi akan secara otomatis meningkat,” sambungnya. Di pelajaran bahasa Indonesia pun, berdasarkan Mendikbud, itu mesti ada fokusnya kepada literasi, bukan cuma terhadap gramatika dan bagimana kosakata Bahasa Indonesia. “Tapi bagaimana konten-konten dalam kurikulum Bahasa Indonesia itu menggunakan buku-buku yang menyenangkan, mempesona, cerita-cerita yang relevan untuk masing-masing jenjang siswa kita,” ungkapnya. Fokusnya itu, tambah Mendikbud, bukan untuk mempelajari Bahasa Indonesia tapi untuk mempelajari literasi, ialah mampu cinta membaca dan mengerti bacaan, persuasif komunikasi melalui pembicaraan atau lisan, dan juga kesanggupan persuasif komunikasi dari menulis. “Itu adalah pergantian yang berdasarkan kami akan mendorong angka literasi kita naik. Dan pastinya dalam aneka macam channel bukan hanya melalui buku namun bahkan kita mampu melakukannya melalui channel-channel online maupun TV,” imbuhnya. Menjawab pertanyaan perihal planning meminimalkan mata pelajaran, Mendikbud telah setuju akan menyederhanakan kurikulum sehingga lebih mudah dikenali buat guru dan juga buat siswa-siswa kita. “Kaprikornus yang telah terang ialah beban konten itu mesti turun. Kaprikornus beban jumlah konten yang harus dipelajari itu harus turun sehingga di masing-masing konten bisa lebih mendalami kompetensi-kompetensi yang terpenting,” katanya. Apakah itu artinya nanti mata pelajarannya dikecilkan atau konten per mata pelajaran dikecilkan, berdasarkan Mendikbud, itu masih dalam tahap sedang dikaji dengan tim internal serta mitra-kawan, dan mendapatkan input dari banyak sekali macam organisasi mengenai reformasi kurikulum. “Jadinya saya belum mampu jawab apakah mata pelajaran yang mau dikurangi atau konten di dalam masing-masing dikurangi,” tambahnya. Yang telah terperinci, berdasarkan Mendikbud, beban siswa dengan jumlah konten dan bahan yang banyak sekali sehingga mereka tidak mampu mendalami kompetensi apapun. “Itu pasti akan kita tangani dan akan kita simplify/sederhanakan dan kita buat jauh lebih fleksibel sesuai dengan keperluan masing-masing anak,” pungkasnya. Sumber: https://setkab.go.id Sumber http://supiadi74.blogspot.com
Selasa, 11 Mei 2021
Persaingan Poster Dan Penulisan Opini Bagi Mahasiswa: Penanganan Pandemi Covid-19
Dengan hormat, Dalam rangka menumbuhkembangkan prestasi dan talenta Mahasiswa pada Pendidikan Tinggi dan memperingati Hari Pendidikan Nasional, Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) melaksanakan kompetisi, sebagai berikut : 1. Lomba Desain Poster, dengan Tema: Kampanye Positif Penanganan Pandemi COVID-19 (ukuran file optimal 3 MB) 2. Lomba Menulis Opini singkat, dengan Tema: Strategi dan upaya untuk penanganan Pandemi COVID-19 Adapun waktu pelaksanaan kompetisi dimulai tanggal 1 April 2020 sampai dengan 25 April 2020 dan akan diumumkan pada Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2020. Informasi tentang kriteria dan persyaratan kompetisi terlampir. Mohon kiranya terhadap Pemimpin Perguruan Tinggi dan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi I s/d XIV mampu memberikan tentang persaingan tersebut. Unduh : 1. Surat Kompetisi Dikti- Hardiknas 2. Panduan Kompetisi Link Pendaftaran dan Upload 1. Kompetisi Poster : bit.ly/lombaposterdikti 2. Kompetisi Opini : bit.ly/lombaopinidikti Sumber http://supiadi74.blogspot.com
Senin, 10 Mei 2021
Kompetisi Video Opini Bagi Mahasiswa: Penangangan Dan Analisis Dampak Covid-19
Yang terhormat 1. Pemimpin Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta 2. Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah I s/d XIV Dengan hormat, Dalam rangka menumbuhkembangkan prestasi dan bakat mahasiswa Pendidikan Tinggi dan memperingati Hari Pendidikan Nasional, Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) melakukan Kompetisi Video Opini dengan tema: Penanganan dan Analisis Dampak Wabah COVID-19. Adapun waktu pelaksanaan kompetisi dimulai tanggal 3 April 2020 sampai dengan 25 April 2020 pukul 23:59 WIB dan akan diumumkan pada Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2020. Informasi perihal standar dan kriteria persaingan terlampir. Mohon kiranya terhadap Pemimpin Perguruan Tinggi dan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi I s/d XIV mampu memberikan tentang persaingan tersebut. Seluruh gosip dapat di susukan melalui laman pusatprestasinasional.kemdikbud.go.id. Unduh : 1. Surat Kompetisi Video Opini bagi Mahasiswa D-III 2. Panduan Kompetisi Video Opini bagi Mahasiswa D-III Sumber http://supiadi74.blogspot.com
Kemendikbud Hadirkan Program Belajar Dari Rumah Di Tvri
Mulai Senin, 13 April 2020, Televisi Republik Indonesia (TVRI) akan menayangkan acara baru dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang bertajuk Belajar dari Rumah. Program tayangan ini menjadi salah satu alternatif pembelajaran bagi siswa, guru, maupun orang bau tanah, selama abad mencar ilmu di rumah di tengah wabah Covid-19. Program Belajar dari Rumah di TVRI akan diisi dengan banyak sekali tayangan edukasi, seperti pembelajaran untuk jenjang PAUD sampai pendidikan menengah, tayangan tutorial untuk orang tua dan guru, serta program kebudayaan di simpulan pekan, adalah setiap Sabtu dan Minggu. Untuk sementara, program ini dijadwalkan akan berjalan selama tiga bulan sampai Juli 2020. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan, walaupun Kemendikbud sudah menjalin kolaborasi dengan platform teknologi atau online learning milik swasta untuk memfasilitasi siswa mencar ilmu di rumah, Kemendikbud menyadari bahwa masih banyak sekolah di kawasan yang tidak mempunyai akses internet, kesulitan menggunakan platform teknologi, hingga kekurangan dana untuk kuota internet atau pulsa. "Kemendikbud ingin memutuskan bahwa dalam abad yang sangat sukar ini ada berbagai macam cara untuk menerima pembelajaran dari rumah, salah satunya lewat media televisi. Karena itu kami meluncurkan acara Belajar dari Rumah," ujar Mendikbud dalam konferensi video pada Kamis, (9/4/2020). Download Materi Pembelajarannya disini Diharapkan, acara Belajar dari Rumah ini mampu memperluas jalan masuk layanan pendidikan bagi penduduk di kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) yang mempunyai kekurangan jalan masuk internet maupun keterbatasan ekonomi. TVRI merupakan terusan gratis yang bisa dirasakan penduduk di aneka macam kawasan, dan mampu dimanfaatkan oleh siswa, guru, dan orang renta untuk membantu pembelajaran dari rumah selama pandemi Covid-19. "Ini ialah respons cepat atas komplain masyarakat di tempat yang tidak memiliki akses internet dan masukan dari Komisi X DPR ketika rapat kerja pada 27 Maret lalu. Semangat acara kita tetap Merdeka Belajar," tutur Mendikbud. Menurutnya, konten pembelajaran dalam acara Belajar dari Rumah akan fokus pada literasi, numerasi, dan penumbuhan akal pekerti atau pendidikan karakter. Kemendikbud juga akan melakukan monitoring dan evaluasi bersama lembaga pemerintah yang independen untuk mengkaji kualitas program Belajar dari Rumah, mirip mengukur apakah manfaatnya betul-betul dirasakan oleh masyarakat. Mendikbud juga menuturkan, gotong rotong menjadi kunci dalam memfasilitasi anak bangsa untuk menerima akses pendidikan. Karena itu Kemendikbud terbuka untuk menjalin kerja sama dengan banyak sekali pihak dalam hal pembelajaran, seperti menciptakan konten edukatif, edutainment, atau platform teknologi, baik dengan kawan yang berada di Indonesia maupun luar negeri. Dalam konferensi video yang serupa, Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid menjelaskan lebih rincian tentang acara Belajar dari Rumah di TVRI. Ia mengatakan, acara di hari Senin hingga Jumat dipakai untuk pembelajaran dengan total durasi tiga jam per hari untuk semua tayangan. "Makara masing-masing ada setengah jam. Setengah jam untuk PAUD, setengah jam untuk kelas 1 sampai kelas 3 SD, setengah jam untuk kelas 4 hingga kelas 6 SD, dan setengah jam masing-masing untuk SMP, Sekolah Menengan Atas, dan parenting," tutur Hilmar. Ia menerangkan, materi acara diambil dari aneka macam sumber. Sebagian besar telah diproduksi Kemendikbud sebelumnya, seperti dari TV Edukasi atau produksi konten unit kerja lain. Ada juga sumber materi dari luar Kemendikbud, adalah Jalan Sesama untuk jenjang PAUD. Hilmar menuturkan, pada akhir pekan, yakni pada Sabtu dan Minggu, ada durasi tiga jam khusus untuk acara kebudayaan, antara lain gelar wicara (talkshow), podcast, kesenian, dan magazine tentang perkembangan budaya dari seluruh Indonesia. Kemudian di malam hari akan ada pemutaran film Indonesia dengan opsi banyak sekali genre, seperti film anak, drama, dan dokumenter. Ia mengatakan, Kemendikbud akan menyiapkan 720 episode untuk penayangan program Belajar dari Rumah selama 90 hari di TVRI. Saat ini Kemendikbud telah merencanakan tayangan untuk dua ahad pertama, sambil memproduksi untuk tayangan di ahad-minggu selanjutnya. "Mungkin yang perlu saya tambahkan, ini semua dilakukan tanpa kita berjumpa , semua dijalankan secara online. Bahan-materi yang ada kita kumpulkan dengan cepat, lalu dijahit. Untuk minggu-minggu selanjutnya mungkin beberapa telah mampu dimasukkan produksi baru. Kami berupaya bekerja cepat di tengah situasi ini," ujarnya. Sumber :kemdikbud.go.id Sumber http://supiadi74.blogspot.com
Minggu, 09 Mei 2021
Surat Edaran Kemdikbud Nomor 9 Tahun 2020 Perihal Ketentuan Kelulusan Program Paket A, B, C Tahun 2020
Kementerian Pendidikan sudah mempublikasikan aturan wacana Ketentuan atau Kriteria Kelulusan Program Paket A, B, C Tahun 2020 dengan mempublikasikan Surat Edaran (SE) Nomor 9 Tahun 2020 Tentang Kebijakan Proses Penyetaraan Lulusan Program Paket A, B, C Tahun Ajaran 2019/2020 yang ditujukan kepada seluruh gubernur, dan bupati/wali kota di seluruh kawasan Indonesia. Berdasarkan Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020. perihal Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Caranavirus Desease (Covid- 19) , pada butir kebijakan No.1.c. disebutkan bahwa dengan dibatalkannya UN tahun 2020. maka proses penyetaraan bagi lulusan program Paket A, acara Paket B, dan program Paket C akan diputuskan kemudian. Menindaklanjuti hal tersebut maka pelaksanaan penyetaraan lulusan Pendidikan Kesetaraan Tahun Ajaran 2019/2020 dikontrol selaku berikut. 1. Ujian Pendidikan Kesetaraan Program Paket A, Paket B, dan Paket C melalui penilaian kelulusan yang dikerjakan oleh masing-masing satuan pendidikan 2. Hasil Ujian Pendidikan Kesetaraan Program Paket A, Paket B, dan Paket C diakui sebagal penyetaraan kelulusan 3. Ujian Pendidikan Kesetaraan dilakukan dengan ketentuan selaku berikut: a.Ujian Pendidikan Kesetaraan dalam bentuk tes yang mengumpulkan penerima asuh tidak boleh dilakukan, kecuali yang telah dilaksanakan sebelum terbitnya surat edaran ini b.Ujian Pendidikan Kesetaraan dapat dilakukan dalam bentuk portofolio nilai rapor dan prestasi yang diperoleh sebelumnya, penugasan, tes daring, dan/atau bentuk asesmen jarak jauh Iainnya c.Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang sudah melakukan Ujian Pendidikan Kesetaraan sebelum terbitnya surat edaran ini mampu menggunakan hasil penilaian untuk menentukan kelulusan penerima didik; dan d.SKB dan PKBM yang belum melaksanakan Ujian Pendidikan Kesetaraan mampu menggunakan nilai lima semester terakhir. Nilai semester genap kelas terakhir dapat dipakai selaku embel-embel nilai kelulusan; 4. Peserta Ujian Pendidikan Kesetaraan yaitu peserta didik yang telah terdaftar pada BlO-UN Tahun Ajaran 2019/2020 5. Kepala SKB dan PKBM wajib memasukkan hasil ujian Pendidikan Kesetaraan ke Dapodik paling lambat tanggal 30 Juni 2020. Sumber http://supiadi74.blogspot.com
Sabtu, 08 Mei 2021
Guru Di Negara Maju Lebih Khawatir Muridnya Tidak Mampu Mengantri Ketimbang Tidak Mampu Matematika
Betapa pentingnya bagi para guru untuk mengajarkan budaya antri selaku bagian dari pendidikan abjad. MENGAPA GURU DI NEGARA MAJU LEBIH KHAWATIR JIKA MURIDNYA TIDAK BISA MENGANTRI KETIMBANG TIDAK BISA MATEMATIKA ? INILAH JAWABANNYA : Seorang guru di Australia pernah berkata : “Kami tidak terlampau khawatir anak2 sekolah dasar kami tidak pintar Matematika”. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak arif mengantri.” Saya tanya “kenapa begitu?” Jawabnya : 1. Karena kita hanya perlu melatih anak 3 bulan saja secara intensif untuk mampu Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran di balik proses mengantri. 2. Karena tidak semua anak kelak memakai ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak jadi penari, atlet, musisi, pelukis, dsb. 3. Karena semua murid sekolah pasti lebih memerlukan pelajaran Etika Moral dan ilmu membuatkan dengan orang lain dikala cukup umur kelak. ”Apakah pelajaran penting di balik budaya MENGANTRI?” ”Oh banyak sekali..” 1. Anak berguru administrasi waktu jikalau ingin mengantri paling depan datang lebih permulaan dan antisipasi lebih permulaan. 2. Anak mencar ilmu bersabar menunggu gilirannya bila dia mendapat antrian di tengah atau di belakang. 3. Anak berguru menghormati hak orang lain, yang tiba lebih awal dapat giliran lebih permulaan. 4. Anak belajar disiplin, setara, tidak menyerobot hak orang lain. 5. Anak belajar kreatif untuk mempertimbangkan aktivitas apa yang bisa dilaksanakan untuk menangani kebosanan ketika mengantri. (di Jepang lazimnya orang akan membaca buku ketika mengantri) 6. Anak bisa mencar ilmu bersosialisasi menyapa dan berkomunikasi dengan orang lain di antrian. 7. Anak mencar ilmu tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya. 8. Anak mencar ilmu hukum alasannya adalah balasan, bahwa kalau datang terlambat harus mendapatkan konsekuensinya di antrian belakang. 9. Anak mencar ilmu disiplin, terstruktur, dan menghargai orang lain 10. Anak berguru mempunyai RASA MALU, kalau beliau menyerobot antrian dan hak orang lain. 11. Dan masih banyak pelajaran lainnya, silakan anda peroleh sendiri.. FAKTANYA di Indonesia.. Banyak orang tua justru mengajari anaknya dlm masalah mengantri dan menunggu giliran, Sebagai berikut : 1. Ada orangtua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dahulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah hambar saja, pura-pura gak tau aja !!” 2. Ada orangtua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tak maudipaksa menyerobot antrian. 3. Ada orangtua yang menggunakan taktik atau argumentasi agar ia atau anaknya diberi jatah antrian terdepan, dengan alasan anaknya masih kecil, kecapekan, rumahnya jauh, orang tak mampu, dsb. 4. Ada orang renta yang murka-marah karena dia atau anaknya ditegur gara-gara menyerobot antrian orang lain, kemudian ngajak tubruk si penegur. 5. Dan berbagai masalah lain yang mungkin pernah anda alami. Yuk kita ajari belum dewasa kita, kerabat dan saudara untuk mencar ilmu etika sosial, khususnya ANTRI. Budaya SUAP dan KORUPSI juga dimulai dari tidak mau mencar ilmu mengantri. Sumber : medsos, website lainnya Sumber http://supiadi74.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)