Selasa, 18 Mei 2021

Mendikbud: 5 Seni Manajemen Optimalkan Mutu Pembelajaran

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, memberikan bahwa Programme for International Student Assessment (PISA) yakni asesmen global yang memetakan sistem-sistem pendidikan di aneka macam macam negara yang dites untuk anak di umur 15 tahun. ”Seperti yang kita semua telah pahami, ranking kita kini masih banyak butuh kenaikan utamanya di area literasi itu yang mengalami sedikit penurunan,” ujar Mendikbud dikala menawarkan informasi pers lewat pertemuan video usai Rapat Terbatas, Jumat (3/4). Untuk itu, Mendikbud telah mempersiapkan seni manajemen yang komprehensif untuk mampu memajukan kualitas pembelajaran sehingga nanti di tahun 2024 atau tahun 2025 saat tes PISA berikutnya mampu terlihat akan ada peningkatan, sebagai berikut: Pertama , dan yang terpenting adalah untuk mengganti standar penilaiannya itu sendiri. “Makanya yang sudah kita kerjakan dengan UN itu diubah menjadi assessment kompetensi minimum, assessment kompetensi minimum itu ialah terinspirasi oleh PISA dan memang sungguh mirip dengan PISA dan soal-soalnya pun mengikuti dan melekat dengan PISA, namun dengan assessment,” imbuh Mendikbud. Karena PISA itu, menurut Mendikbud, cuma untuk 15 Ia akan menurunkan itu, baik yang buat Sekolah Menengan Atas, SMP, dan juga SD. Ia menyebutkan bahwa step pertama yaitu mengikuti persyaratan internasional yakni PISA dalam assessment pemetaan pendidikan kita. ”Karena UN itu standar lokal tetapi assessment kompetensi kita yang baru itu adalah tolok ukur internasional. Tentunya yang dites bukan cuma kognitif saja tapi juga survei abjad dan lingkungan mencar ilmu, dimana kita akan bisa mendapatkan pemetaan hal-hal lain yang berhubungan dengan norma-norma, kesehatan mental, kesehatan budpekerti, dan kesehatan pada belum dewasa di masing-masing sekolah,” kata Mendikbud seraya menegaskan langkah awal yaitu mengubah terhadap standar penilaian atau assessment global yakni PISA. Kedua , yakni untuk transformasi kepemimpinan sekolah, yakni memastikan bahwa guru-guru penggagas terbaik yang kini di banyak sekali macam daerah itu betul-betul yang menjadi pemimpin sekolah, yang menjadi kepala sekolah. ”Dan mereka juga diberikan keleluasaan dan otonomi dalam penggunaan anggaran dan diberi supply dengan aneka macam macam akomodasi teknologi untuk merendahkan atau meminimalkan beban administratif mereka, sehingga mereka bisa konsentrasi pada mentoring guru-guru di dalam sekolah mereka,” tandas Mendikbud. Ketiga , ialah kenaikan kualitas dibandingkan dengan pendidikan profesi guru atau PPG supaya mencetak guru-guru gres dengan kualitas yang bagus yang punya misi yang searah, yakni untuk siswa yang terbaik. ”Dan ini yakni kami akan membuka acara pendidikan profesi guru di banyak sekali macam institusi lokal maupun internasional dan itu akan membuat alumni-alumni lulusan yang lebih baik lagi. Karena banyak sekali guru yang pensiun, ada guru-guru PNS yang pensiun setiap tahunnya. Jadinya pabrik guru kita itu mesti diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya,” ungkapnya. Kemudian, berdasarkan Mendikbud yaitu untuk memastikan juga bahwa pelatihan-pelatihan guru yang ada sekarang itu bukan sifatnya cuma teoritis namun sifatnya praktik dan betul-betul mencar ilmu. ”Ada yang dilaksanakan pembinaan di dalam sekolah-sekolah lain yang kualitasnya lebih baik. Bukan cuma di dalam sebuah pelatihan atau ditunjukkan PowerPoint tapi proses pelatihan guru itu dikerjakan lewat interaksi dengan guru dan guru dan di dalam class room, pengamatan dan feedback,” imbuhnya. Keempat ialah untuk melaksanakan transformasi pengajaran yang sesuai dengan tingkat kesanggupan siswa. ”Sekarang ini banyak sekali pengajaran sebab silabus kita dan kebijakan-kebijakan mengajar kita sungguh rigid, sungguh ketat, sehingga berbagai guru-guru dan sekolah yang tidak bisa mengajar kurikulum yang tepat dengan tingkat kemampuan siswa,” urai Nadiem. Kadang-kadang, berdasarkan Nadiem, terlalu susah yang dihadapi siswa jadi kurikulum ini mesti disederhanakan, dibentuk lebih fleksibel, dan berorientasi terhadap kompetensi, dan disokong juga dengan tool kit-tool kit online yang mampu membantu personalisasi atau segmentasi pembelajaran. ”Sehingga tidak semua murid harus melakukan sebuah hal yang sama, kalau satu kelas pun murid-murid dengan tingkat kesanggupan yang berbeda bisa melaksanakan misalnya PR yang berbeda atau project yang berlainan,” tandasnya. Kelima , yaitu filsafat bahwa semua perubahan atau transformasi sekolah itu dikerjakan cuma di kementerian itu akan berganti, kemitraan dengan kawasan dan aneka macam macam organisasi pelopor itu akan ditingkatkan. ”Kaprikornus kami yakin di Kemendikbud bahwa partisipasi masyarakat dan aneka macam macam organisasi di dunia pendidikan maupun itu nirlaba, perusahaan-perusahaan yang punya passion di pendidikan, Ed-tech, teknologi startup-startup di bidang pendidikan semuanya mesti dirangkul untuk bekerja sama untuk menyasar kenaikan pembelajaran hasil berguru siswa,” pungkasnya. Sumber:  https://setkab.go.id/
Sumber http://supiadi74.blogspot.com


EmoticonEmoticon