Selasa, 07 April 2020

Stay At Home – Cerita Tentang Virus Corona


Stay At Home – Eric memandangi salju yang terus berjatuhan dari jendela kamarnya. Ia mendesah lesu, tak bergairah seperti lazimnya . Dari kamarnya ia dapat menyaksikan boneka salju satu-satunya tahun itu dengan papan di sebelahnya. Papan yang bertuliskan “Stay At Home” yang memerintahkan para penduduk di rumah selama pandemi virus corona.





Biasanya dikala ini ia bermain dengan sahabat-temannya di sana, membuat banyak boneka salju, main perang bola salju, berseluncur, atau mendatangi rumah Nenek Rith untuk menciptakan kudapan manis. Eric senantiasa menanti itu sebelum isu terkini hambar ini. Sekarang papan seluncur barunya tidak terpakai, sepatu seluncurnya juga tak tersentuh di dalam lemari.





Sekarang ada security yang selalu patroli berkeliling komplek Eric, memutuskan semua warga kondusif di rumah. Atau bila ada yang keluar, akan ditanyai problem apa sampai keluar disaat pandemi ini. Katanya, selama 2 hari ini yakni puncak pandemi virus Covid-19, membuat peraturan kian ketat. lagi-lagi Eric menghela napas.





“Kakak!” Shery, adiknya mengetuk pintu kamar Eric.





“Masuk,” jawab Eric lesu.





Shery membuka pintu dan berseru, “Kak, Ibu membuat coklat panas, ayo!”





“Hm,” jawab Eric, kemudian mengikuti adiknya dari belakang.





Di ruang keluarga, Ayah sedang menikmati teh-nya di sofa sambil menonton TV, Ibu sedang menenteng nampan berisi dua gelas. Ayah bekerja di rumah (Work From Home – WFH).





Shery pribadi mengambil gelas berwarna kuning dan duduk di sofa. Ia berusaha meniup-niup coklat panas tersebut. Sedangkan Eric duduk di dekat meja kopi sambil mengambil gelas miliknya.





“…korban kasatmata Covid-19 terus meningkat. Sekali lagi penduduk dihimbau untuk tetap di rumah hingga pandemi selsai…” Suara reporter di info.





“Wah, bahaya ya, terlebih ketika demam isu acuh taacuh seperti ini. Virusnya bisa meningkat pesat karena tidak ada panas. Nah, Eric, Shery, kalian jangan main dahulu ya,” pesan yang tersirat Ibu.





“Baik!” ujar Shery.





“Lho, Eric? Kenapa lesu begitu?” tanya Ayah.





“Kakak kesal karena tidak boleh main, Yah. Biasanya kan kami bersenang-senang bersama teman-sobat lainnya,” jawab Shery mewakili Eric.





“Owh, tabah ya, Eric. Saat ini dilarang bermain. Tetaplah di dalam rumah, untuk meminimalisir korban aktual corona.” Ibu membelai rambut Eric.





Eric cuma mengangguk lesu. Bagaimanapun, yang dibilang Ibu benar. Saat pandemi seperti ini, memang seharusnya kita mematuhi aturan yang diberikan, yakni tetap di rumah untuk mengurangi naiknya pasien yang faktual virus.





“Lalu, apa yang harus dikerjakan selama di rumah seperti ini, Bu?” tanya Eric sesudah menyeruput coklat panasnya.





“Hmm… banyak. Kamu bisa menelepon teman-teman mu melalui telepon, atau video call. Selain itu, Kamu pasti ada peran sekolah, mungkin kau juga mampu membantu Shery melaksanakan peran sekolahnya,” nasehat Ibu sembari melirik Shery yang menyengir.





“Ah iya, itu benar sekali, bantu Shery ya, Kak,” ujar Shery menyetujui perkataan Ibu, menciptakan Eric tersenyum tipis.





“Padahal Ayah ada di rumah, sayang sekali kita tidak mampu bermain perang bola salju, atau berkemah di simpulan musim hambar,” ujar Eric.





“Siapa bilang? Kita mampu melakukannya di rumah, niscaya menyenangkan,” kata Ayah meyakinkan. 





Baca:
Contoh poster corona
Puisi untuk tenaga medis
Puisi ihwal Virus Corona – COVID-19
Pantun Corona
Puisi tentang rindu sekolah





Eric tersenyum bahagia. Benar, mungkin kita bisa menikmati kegiatan bersama keluarga di rumah. Lebih baik tetap di rumah sampai pandemi akhir, dibandingkan dengan terkena virus corona yang malah memperbesar persoalan, dan membuat kita tidak bisa menjalani hari-hari dengan sehat mirip biasa.





Terima kasih sudah membaca Stay At Home – Cerita ihwal Virus Corona. Koreksi bila saya salah dan bagikan jika berfaedah.



Sumber ty.com


EmoticonEmoticon