Sepanjang era kecilku, aku senantiasa bercita-cita menjadi seorang pilot. Ya, pilot keren! Aku ingin menjadi pilot, polisi, prajurit, dan lain-lain. Aku tahu, saya pasti bisa mencapainya. Ternyata, semenjak aku duduk di Sekolah Dasar, cita-citaku berganti! Penasaran, baca ceritaku yang berjudul Aku Ingin Jadi Pelukis Cilik!
Oh, halo! Namaku Carla. Aku sekarang duduk di kelas 5 SD di Sekolah bernama Green Leaves Elementary School. Jujur, aku yaitu anak yang cukup tomboy, makanya saya ingin jadi pilot ketika Taman Kanak-kanak. Nah, saya ingin menceritakan sebuah harapan yang menurutku sungguh memberi ide.
Saat gres duduk di kelas 1 SD, saya mempunyai sobat berjulukan Ellen. Dari dahulu, dia bercita-cita menjadi pelukis. Eits, saya ingin jadi penulis bukan alasannya ikut-ikutan, lho, ya! Cita-citaku ini menurut kemauanku sendiri dan pilihanku sendiri.
Suatu pagi, saya dan Ellen sedang berguru di kelas. Lalu ada opsi ekstrakulikuler! Ada beberapa, tetapi seluruhnya tidak menggembirakan. Lalu ada ekskul melukis. Ellen mengikutinya, dan alasannya tidak ada opsi, saya ikut. “Kamu niscaya suka,” kata Ellen. “Ehh… Siapa ya? Siapa, sih?! Kayak ada yang ngomong, nih!” kataku akal-akalan tidak dengar. Ellen tertawa kecil.
Saat akan mulai ekstrakulikuler… “Len, aku kesal! Kenapa kamu mau-maunya sih menentukan ekskul ini?” tanyaku dengan marah. “Tenang, Car. Nanti seru, kok!” jawabnya santai. Apa? Seru? Apa ia sudah kehilangan nalar sehat?
Aku menjalaninya beberapa kali. Akhirnya saya sudah biasa, malahan saya sungguh bahagia. Keren! Cat warna, kanvas, kuas? Aku menggemari itu semua! “Ini Cat warna langit bertabrakan dengan pohonnya. Coba pakai warna lain, deh! Pasti karyamu yang telah cantik itu makin anggun,” kata Kak Alice, pengajar ekskul melukis. Dia sangat bagus dan lembut. “Nah, Ellen, yang ini ada teknik mudahnya, lho! Seperti ini, nih….” Kak Alice mencontohkan. “Wah, terima kasih, Kak Alice!” kata Ellen. “Carla, punyamu bagus sekali!” kata Darren, temanku. “Hehehe… Makasih ya Dar. Aku juga baru belajar nih, maklum jika kurang rapi,” saya mengucapkan terima kasih.
Hari demi hari, bulan demi bulan, dan waktu demi waktu. Tak terasa, aku sudah kelas 3 SD. Aku tetap memilih ekstrakulikuler yang sama setiap tahun.
“Adek-adek, dalam waktu dekat akan ada Lomba Melukis Anak Indonesia, lho! Temanya adalah ‘Keberagaman Budaya di Indonesia.’ Dan Kakak akan memilih… Carla Valerie Bethrica!” kata Kak Alice pada sebuah hari. “Wah, selamat, Car! Semoga kau menang dan ini jadi salah satu pengalaman terbaikmu!” kata Darren. “Iya, Carla! Pasti kamu jadi pelukis jago!” kata Jessie. “Makasih, Kak! Makasih semua!” saya sungguh-sungguh bersyukur. Sementara, saya menyaksikan Ellen duduk sendirian sambil cemberut di sudut ruangan.
“Huh, Carla! Kan saya yang mengajakmu ikut ekskul ini! Kok malah kau yang diseleksi?” kata Ellen ketika final ekskul. “Maaf, Len. Maaf banget, yaaaa…. Kan kita masih sahabat. Masa hanya gara-gara prestasi harus jadi musuh?” tanyaku. “Terserah kau, lah! Pokoknya, kalau kau enggak mau bilang ke Kak Alice untuk memilihku, kita bukan sobat lagi!” kata Ellen sambil menjauh. “E.. Ellen!” panggilku.
Di rumah, saya berjalan lesu ke ruang tamu. “Eh, Carla! Sudah final ekskulnya, nih? Bagaimana? Katanya kamu diseleksi lomba melukis?” tanya Kak Charlie. “Enggak, Kak. Enggak jadi lombanya,” jawabku. “Lho, kenapa?” tanya Kak Charlie lagi. Aku menceritakan seluruhnya dari permulaan hingga simpulan. “Ooo, begitu, Car? Kakak juga pernah begitu. Waktu Taman Kanak-kanak, kontes menghias telur paskah! Sahabatku murka karena saya menang. Kami tidak bersahabat hingga beberapa bulan. Tapi, Kakak memutuskan untuk berdamai dengannya. Kalau Alice bilang begitu, tetap teguh pada cita-citamu: MENJADI PENULIS! Enggak selamanya kita harus nurut sama sahabat, diinjak-injak, dan dijatuhkan. Kita mesti bertahan di titik tujuan kita, Car!” kata Kak Charlie panjang lebar.
Setiap hari kecuali hari Minggu, saya berlatih bersama Kak Alice dan mengikuti les melukis juga. Aku merasakan marahnya Kak Alice, lho! Bukan marah padaku, sih. Hari Jum’at, tiba-datang Ellen tiba untuk sekedar mengetuk-ngetuk pintu dan masuk lalu bermain-main. Kak Alice murka besaaaar! Wah, ternyata Kak Alice lembut namun bisa tegas juga, ya!
Latihan kontes, antisipasi yang keras, semua sudah berlalu. Aku pun mengikuti lomba itu. Teman-sahabat menyemangatiku, kecuali… Ellen. “Juara 3 Lomba Melukis Anak Indonesia tahun ini diraih oleh… Patricia Daphne Katie! Juara 2 Lomba Melukis Anak Indonesia tahun ini dicapai oleh… Nadia Putri Novira! Juara 1 diraih oleh Leora Allexa! Dan, terakhir, juara umum! Yang paling ditunggu-tunggu dicapai oleh… Carla Stephanie!” kata pembawa program. “Yaaaahh, kau kalah, ya? Kasian, deh!” kata Ellen dengan nada meledek. Tiba-tiba, juri dan pembawa acara sibuk sendiri. “Oh, maaf! Terjadi kesalahan! Juara biasa dicapai oleh…” kata pembawa program yang membuatku ingin tau, “Carla Valerie Bethrica! Selamat! Yang tadi diundang silakan maju!” Waaaww! Aku menang ternyata! Aku pun maju ke panggung dengan penuh yakin diri. Aku menang dan mampu lanjut ke babak berikutnya: Tingkat Kota!
Nih, ya! Di tingkat kota, saya dapat juara umum lagi. Di tingkat Provinsi, saya mampu juara 1, tapi masih mampu lanjut. Lalu, di tingkat nasional… Aku juara 3! Yeeeeyy! Senengnyaaa! Serius, deh! Aku sudah menjalani langkah awalku menjadi pelukis! Aku besar hati, tetapi tidak pernah berhenti berkarya. Dan, aku telah berbaikan dengan Ellen. Dia sangat bagus dan bahkan beliau kini juga mampu menulis cerpen. “Selamat, ya, Car!” kini kata-kata itu sering timbul dalam kalimat yang diucapkan Ellen. Tandanya apa? Aku sering berprestasi, lho!
Di kelas 5 SD ini, saya masih aktif dalam dunia seni, utamanya melukis. Aku mendapat banyak penghargaan. Bahkan, aku mampu dikatakan seorang pelukis cilik. Aku cukup terkenal, meskipun belum seterkenal itu. O ya, orang-orang mengingatku sebagai “Si Ambisius” alasannya menurut orang-orang niscaya mimpiku akan selalu kukejar bagaimanapun caranya selagi itu tidak merugikan siapapun dan merupakan hal yang faktual.
Pesan susila: Kalian semua tetap semangat dalam banyak hal, ya! Buktikan kepada orangtua, sahabat, guru, dan seluruh dunia bahwa kalian mampu! Satu lagi! Boleh ambisius, tetapi jangan sampai merugikan siapapun. Selagi hal itu konkret, tetaplah dikejar, ya!
Baca:
– Cara menciptakan cakram warna dengan gampang (Download Template)
– Perbedaan Hasil Mewarnai Menggunakan Crayon, Pensil Warna, dan Spidol
– Arti warna ungu dalam seni rupa mempunyai makna?
– Gambar Mewarnai Terbaru Untuk Anak Taman Kanak-kanak, PAUD, SD (Tayo, Tobot, dll)
Terima kasih telah membaca cerita anak Aku Ingin Jadi Pelukis Cilik! Koreksi kalau saya banyak salah, tulis di kolom komentar ya!
Sumber ty.com
EmoticonEmoticon