Rabu, 22 Januari 2020

Cerita Anak: Kisahku Dan Mereka – Part 1


Cerita anak: Kisahku dan mereka – Part 1. Bagiku, sahabat yakni hal terpenting dalam hidup. Semua orang, pasti akan memerlukan seorang sobat. Bagaimana denganmu? Kalau menurutku, tanpa sahabat, kita tak dapat hidup dengan bahagia dan suka cita. Dan, saya memiliki suatu kisah indah dengan para sahabatku.





Oh hai, namaku, Milka! Seorang gadis yang sekarang berusia 10 tahun. Aku yakni anak yang energik dan sangat aktif. Aku lebih suka bermain diluar dengan sobat-sahabatku, dari memainkan ponsel. Dan aku, mempunyai sahabat yang senantiasa menemaniku kapanpun dan dimanapun aku berada.





Sahabatku bukanlah seperti sobat yang lain. Mereka sungguh imut dan lucu. Setiap dikala aku bermain dengan mereka di periode mempunyai waktu luang. Bahkan, tak jarang saya tidur bareng dengan mereka.





Ya, mereka ialah hewan peliharaanku. Dulu, aku mempunyai 2 ekor hewan peliharaan. Mereka jugalah sobat terbaikku yang senantiasa menemaniku. Namun, kini, saya tak mampu bareng lagi dengan mereka. Tak dapat kembali melihat tingkah lucu mereka. Tak mampu kembali mengelus bulu halus mereka. Mengapa? Silahkan baca kisahku bersama mereka ya…





Sahabat pertama





Ini yaitu binatang peliharaan pertamaku. Kakakku yang membelinya di suatu toko binatang. Saat itu, keluargaku mempunyai suatu cafe. Dan aku, acap kali suka ikut menjaga cafe jikalau libur sekolah.





Ketika hari mulai memasuki malam, ada 6 orang perjaka bermotor yang mengunjungi cafe kami. Salah seorang dari mereka menjinjing seekor musang imut. Karena saya yakni seorang pecinta hewan, aku kesengsem dengan musang hitam yang ada dalam tangan perjaka itu. Aku mencoba mengelusnya dan bermain dengannya, lucu! Sangat imut.





Tak tahan untuk memilikinya, kesudahannya, kakak laki-lakiku pun pergi membelinya bersama dengan ayah ke toko binatang, tepat malam itu juga, yang jaraknya lumayan jauh dari cafe.





Tak berapa lama lalu, mereka pun kembali. Aku pribadi menghampiri musangnya, merangkulnya dan mengelusnya dengan sentuhan penuh kasih sayang. Bagai seorang ibu yang tengah menggendong bayinya. Warna musang yang hitam bercampur debu dengan bulu lebat dan ekor panjang membuatnya sungguh imut. Aku memberinya nama Pay.





Pay tinggal di cafe selama 5 hari. Selama disana, saya tak mengurungnya dalam kandang layaknya hewan peliharaan lainnya, melainkan aku membiarkannya bermain bebas dalam cafe. Tentunya dengan perhatian yang extra , supaya beliau tak mengusik para pelanggan.





Aku senantiasa bermain dengannya. Aku memberinya dan menyuapinya makanan bubur bayi yang dijual dalam bungkus. Terkadang juga, aku memberinya pisang yang telah dihaluskan. Bahkan, acap kali, saya ikut makan bersamanya. Tentunya dengan wadah yang berlawanan.





Ia sangat aktif dan energik mirip diriku. Aku senantiasa dibentuk kewalahan ketika mengejarnya. Namun, itu menunjukan jikalau dia sehat. Sampai, beliau pernah membuang kotorannya di baju yang kukenakan.





5 hari pun berlalu, kami pun pulang ke tempat tinggal. Aku mengajak Pay berjalan-jalan di sekeliling komplek. Kemudian memperkenalkan beliau kepada sobat-temanku. Yaitu Syifa dan Shalista. Mereka terlihat bahagia ketika bermain dengan Pay. Hampir saban hari, Syifa dan Shalista mendatangi rumahku untuk bermain dengan Pay.





Bermain dengannya memang banyak menguras tenaga juga keringat. Namun, itu bukan bermakna menjaganya adalah hal melelahkan layaknya bekerja. Semua saya lakukan dengan bahagia dan suka cita.





Kini, Pay telah tumbuh semakin besar. Namun, semakin besar tubuhnya kian galak pula sikapnya. Ia menjadi binatang yang sering menggigit. Akhirnya, Pay pun dikurung dalam sangkar. Dan sekarang, dia tak lagi di rumah bersamaku. Melainkan di bawa oleh ayah ke tempat tinggal yang erat dari cafe. Meski murung, namun, aku percaya ini yang terbaik untukku juga Pay.





Aku memang memiliki 2 sobat binatang peliharaan. Namun, persahabatanku dengan mereka tak pernah berlangsung usang. Pay, dibawa ke sana oleh ayah. Sedangkan, sahabatku yang yang lain, nyawanya telah melayang dibawa kembali oleh Rabb-Nya.





Baca:
Cerita Anak: Sahabatan Gara-gara Covid-19
Cerpen Teman Sejati
Cerpen Persahabatan Lucu





Penasaran kisahku dengan sahabatku lainnya? Silahkan baca Cerita anak: Kisahku dan mereka – Part 2 nanti ya…



Sumber ty.com


EmoticonEmoticon